13 Pengalaman Hidup Yang Hanya Akan Dimengerti Anak Rantau

Hanya perantau yang mengerti

Merantau adalah sebuah pilihan hidup. Ada yang memulainya sejak SMP, ada yang memulainya sejak kuliah, atau selepas kuliah baru mulai merantau. Yang pasti, banyak hal yang diajarkan dalam kehidupan seorang perantau, dan tidak bisa didapatkan seandainya kita berada di rumah terus menerus.

Ketika pilihan merantau sudah diputuskan, akan ada banyak hal yang kamu lewati. Banyak perasaan baru yang akan kau pelajari. Dan lebih banyak kenangan yang akan terukir di tempat baru.

1. Ketika waktu berangkat sudah tiba, packing sudah rapi, enggan sekali rasanya meninggalkan keluarga tercinta

Ketika semua siap, kamu justru tak ingin pergi
Via budgettravel

Waktu yang sudah ditetapkan sebagai tanggal keberangkatanmu ke luar kota dalam waktu yang lama pasti akan membekas di ingatanmu. Melihat orang tua atau saudara yang membantu mengemasi barang bawaanmu, mereka yang bersiap melepasmu pergi jauh, justru membuatmu semakin enggan meninggalkan rumah yang selama ini memberikan keteduhan.

Wajar sekali sebenarnya, karena di tempat asalmu pasti banyak kenangan yang tak mudah dilupakan. Kenangan bersama teman-teman, orang tua, saudara, dan lingkungan yang kadung membuatmu nyaman.

2. Lambaian tangan orang rumah terlihat seperti ajakan untuk segera pulang

Lambaian tangan mereka
Via thejournal.ie

Ketika mereka melambaikan tangan tanda bersiap untuk berpisah dalam waktu yang cukup lama, kamu justru merasa itu adalah ajakan agar kamu segera pulang lagi. Terminal bus, stasiun kereta, atau bandara mungkin akan jadi tempatmu merasakan ini.

Keinginanmu untuk lebih mandirilah yang lebih kuat hingga kamu mampu melewatinya.

3. Susah tidur pada malam-malam pertama di perantauan, terbayang nyamannya semua tempat di rumah

Tidak bisa tidur keinget rumah

Beruntung jika kamu bisa mendapatkan kamar kos yang baik, atau mungkin eksklusif dengan semua kelengkapannya. Tetapi banyak perantau-perantau muda yang mengawali perantauannya dengan kisah pedih, hanya kamar 3×3 tanpa isi, cat yang sudah mengelupas, dan lantainya yang dingin.

Akhirnya kamu merasakan bahwa semua tempat dirumahmu dulu begitu nyaman untuk ditinggali. Tidak ada tempat senyaman rumah saat kamu mengalami perasaan ini untuk pertama kalinya. Bayangan akan rumah selalu mengikuti meski mata ingin terpejam. Tapi kau tidak menyerah bukan?

4. Meski tak mudah, menjalani kehidupan sendiri membuatmu banyak bersyukur

Bersyukur
Via darlingmagazine.com

Di kota yang baru, kamu akan langsung merasakan atmosfer yang jauh berbeda. Sekarang kamu dituntut lebih mandiri, mengatur keuangan dengan lebih baik, dan menghargai apapun yang ada di kamar kosmu.

Makanan, minuman, bahkan hanya air putih akan menjadi barang berharga di awal kamu merantau. Belum ada dispenser, boros jika harus membeli terus menerus, belum lagi jika malam-malam terbangun dan kamu menyadari tak ada air di kamar.

5. Tiga bulan pertama yang dihiasi isak tangis dan kerinduan akan rumah

Via atuguru.in
Via atuguru.in

Saat-saat terberat di perantauan biasanya adalah tiga bulan pertama. Kamu belum hafal semua tempat di kota baru, belum banyak mengenal teman-teman baru, belum memiliki lingkungan pergaulan yang baru, dan harus belajar bagaimana terus bertahan hidup dengan apa yang kamu miliki.

Ya, tiga bulan pertama yang sangat berat. Belum lagi kekhawatiran orang tuamu yang semakin membuatmu menyadari betapa berartinya mereka.

6. Lewat tiga bulan, kamu mulai menikmati proses demi proses adaptasi yang harus dilalui

Teman-teman baru di perantauan
Via Sparknotes.com

Memiliki beberapa teman baru yang setiap hari bertemu, sangat membantumu melewati proses adaptasi di kota baru. Memiliki tempat makan langganan, dan sedikit demi sedikit melengkapi kebutuhan yang harus ada di kamar kos. Kamu sukses melewati tantangan berat sebagai perantau pemula. Perlahan kamu mulai menikmati, sedikit demi sedikit pemikiranmu akan tumbuh semakin dewasa menyikapi segala hal.

Kemampuan beradaptasi, adalah kemampuanmu untuk mempertahankan diri. Sudah sejauh ini, kamu tidak ingin semuanya sia-sia. Kamu mulai fokus terhadap tujuanmu pergi ke rantau. Yang pada akhirnya adalah untuk membahagiakan mereka yang menyelipkan namamu dalam setiap doa.

7. Berhemat adalah sebuah perjuangan untuk tetap bisa makan hingga akhir bulan

Berhemat di Perantauan
Via Holidayhometimes.com

Kebutuhan hidupmu ternyata semakin meningkat. Jika masih sekolah atau kuliah, ada buku yang harus dibeli ataupun difotocopy. Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang juga semakin terlihat. Berhemat, adalah hal wajib yang harus dilakukan jika tak ingin kehabisan uang sebelum kiriman selanjutnya datang. Disini kemampuan bertahan dengan hal-hal seadanya juga sangat diuji. Karena bagaimanapun, kamu tidak ingin terus-terusan meminta tambahan uang bulanan bukan?

Terkadang, harus benar-benar menutup mata. Apalagi jika ada diskon besar-besaran entah itu fashion, bazar buku, atau bahkan kegiatan positif yang memang membutuhkan investasi berupa uang.

Iya, realistis biar minggu depan masih bisa makan. #anakrantau

Tidak ada uang sepeserpun
Via Enterprenuer.com

Mungkin tidak semuanya mengalami hal ini. Tapi kalian yang pernah merasakan ini pasti tidak akan melupakannya seumur hidup. Bagaimanapun sudah berusaha berhemat, ternyata ada kebutuhan yang tidak bisa dihindari hingga memaksa mengeluarkan simpanan terakhir.

8. Kamu mulai belajar bagaimana mencukupi diri di perantauan

Kerja Part Time
Via kerjadiaustralia.com.au

Semakin lama di perantauan, kamu mulai malu jika harus terus menerus meminta kiriman uang kepada orang tua di rumah. Kamu mulai berfikir bagaimana caranya mencukupi kebutuhan tanpa tambahan uang bulanan yang mungkin akan sedikit merepotkan. Mencari kerja part time, mencari-cari informasi bagaimana mendapat penghasilan tambahan, dan menekuni hobi siapa tau bisa menghasilkan. Kamu sudah semakin siap untuk mandiri.

9. Lingkungan pertemanan akan sangat berpengaruh terhadap rute hidupmu kemudian

Lingkungan teman yang berpengaruh
Via Liputan6.com

Di perantauan, kita merasa lebih bebas daripada berada di rumah. Tidak ada orang tua yang selalu mengawasi setiap gerak gerik kita. Tetapi disitu juga kamu mulai belajar bagaimana arti tanggung jawab. Kamu bebas bermain, kamu bebas pergi sampai larut malam, tetapi ada konsekuensi yang harus ditanggung demi cita-cita yang kamu bawa dari kampung halaman.

Pergaulanmu dengan teman-teman di perantauan cukup banyak berpengaruh terhadap bagaimana pola pikirmu. Kamu mulai memiliki teman yang sederhana, glamour, akademik oriented, ataupun temen-teman yang terlihat gak jelas tetapi justru produktif dalam berkarya.

10. Kamu pun menyadari makanan paling enak itu bukan di restaurant mahal, tapi masakan rumah yang selalu membuat rindu

Masakan Ibu
Via Liputan6

Ah, semahal-mahalnya makanan yang pernah kamu makan, akan berbeda rasanya dengan masakan ibu yang sederhana tapi selalu dirindukan.

Ibu, semoga engkau sehat selalu

Enggan sekali untuk berangkali
Via esqlife.com

Saat kamu pulang ke kampung halaman, perasaan itulah yang dimiliki seorang perantau. Apalagi jika kamu termasuk anak rantau yang jarang pulang kampung halaman. Saat berada di perantauan, kamu mulai menikmati proses hidupmu sendiri dan membuatmu sungkan untuk pulang jika hanya sebentar. Ketika berada di rumah, enggan sekali rasanya mengemas barangmu untuk berangkat lagi.

Ya, merantaulah agar kau tau betapa berharganya waktu bersama keluargamu

12. Pergolakan batin antara optimis dan pesimis, Kamu tidak ingin perantauanmu sia-sia

Pesimis
Via brighterlife.co.id

Menghadapi kesulitan yang seolah bertubi-tubi datang, kadang muncul keraguan apakah kamu bisa berhasil dengan cita-citamu di perantauan. Tentu saja, kamu tidak ingin perjuanganmu sia-sia sudah meninggalkan kampung halaman. Kini kamu mulai berani untuk menggantungkan cita-cita.

Aku harus sukses saat pulang kampung halaman

13. Semua yang sudah kamu lalui di perantauan kini membuatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak dan dewasa

Kamu menjadi semakin bijak dan dewasa
Via squarespace.com

Dunia rantau dengan segala lika-likunya sudah mengajarimu banyak hal tentang arti kerinduan, perjuangan, dan kehidupan yang lebih luas. Kini kamu mulai lebih bijak menghadapi sesuatu, menghadapi masalah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Kamu semakin realistis menghadapi kehidupan yang berat, namun tetap optimis bahwa perjuanganmu tidak pernah sia-sia untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Dari rantau, kau belajar kenapa orang tuamu begitu berat melepasmu sendirian Dari rantau, kau belajar menghargai waktumu ketika pulang Dari rantau, kau belajar bagaimana cintamu kepada kampung halaman

Kesulitan demi kesulitan yang kamu lalui, secara tidak langsung menempamu menjadi manusia yang lebih bijak. Kamu mulai mengerti betapa beratnya orang tua mengusahakan apa yang terbaik buatmu. Kerinduanmu terhadap mereka semakin membuncah, dan keinginanmu untuk segera menggapai cita-cita kian menggelora.

14. Kamu siap mengusahkan yang terbaik, hanya berharap doa yang terus mengalir dari orang-orang tercintamu di rumah

Semangat Meraih Cita-Cita
Via moneysupermarket.com

Kini kamu sudah lebih siap menghadapi hidup sebenarnya. Tidak cengeng lagi sedikit-sedikit merengek. Kamu sudah tau bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menebus cita-cita mulia dalam dada. Waktu, tenaga, pikiran, akan dicurahkan demi menggapainya.

Mungkin saja kamu sempat salah langkah, mungkin kamu pernah keliru. Tetapi kamu menyadari bahwa ada hal-hal penting yang bisa dilakukan demi mengubah masa depan lebih baik. Fokus pada apa yang dimiliki dan bisa dilakukan, sembari terus mengupayakan yang terbaik.

Bagikan Pendapatmu